Aku menyeret perlahan koper berukuran sedang yang cukup berat itu, langkah demi langkah, hingga tiba di lobi apartemen yang tampak sepi dan sendu.
Aku menghampiri meja resepsionis dengan napas sedikit terengah.
“Permisi, Mas. Saya Naya, pemilik baru apartemen nomor 05,” ujarku pelan.
Petugas resepsionis itu melirik sebentar ke arahku.
“Oh iya, selamat malam, Mbak Naya. Perkenalkan, saya Rudi. Ini kuncinya,” sapanya hangat sambil menyodorkan kunci berukuran sedang.
“Terima kasih, Mas.”
Mataku menelusuri setiap sudut ruangan — dinding putih bersih, lantai berkilau, dan langit-langit tinggi yang membuat tempat itu terasa megah namun sunyi.
Begitu sunyi hingga ada sesuatu yang terasa... mencengkeram.
“Penghuninya sudah pada tidur, atau memang apartemen ini tak begitu berpenghuni?” tanyaku ragu.
Mas Rudi tersenyum kecil.
“Hmm... ramai kok, Mbak. Hanya saja, entah kenapa, malam ini terasa agak sepi,” jawabnya tenang — setenang apartemen tua itu.
Aku membalas senyumnya, lalu kembali menarik koperku.
Langkahku bergema pelan hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu apartemenku — Room 05.
Aku meneguk dengan rakus air mineral yang aku bawa dari kosanku sebelumnya.
“Ahh… lega. Akhirnya tiba juga di apartemen ini,” rintihku.
Aku melirik setiap sudut apartemen.
“Hmm… kamar apartemennya lumayan bersih dan besar. Kok bisa ya, penghuni sebelumnya merasa nggak betah? Padahal tempat ini terasa sangat damai,” gumamku.
Setelah berkeliling mengamati setiap bagian ruangan itu, akhirnya tibalah di part yang paling kutunggu — kamar.
Yaa… tak ada yang paling mengesankan selain masuk ke dalam pintu bertuliskan bathroom itu.
Dengan langkah kecil, aku membuka perlahan pintu berukuran lumayan besar dan berwarna cokelat itu.
Dan tampaklah di sana kaca besar, lebar, dan kokoh — berdiri anggun membatasi pandangan menuju indahnya kota Jakarta di malam hari.
Aku tercengang… bahkan hampir menangis.
Karena memiliki kamar seindah ini adalah mimpi masa kecilku.
Tak hanya itu, ada banyak lagi bagian-bagian indah nan estetik yang terbangun megah di kamar itu.
Angin berhembus pelan, menyusuri lorongan apartemen panjang yang sepi. Tak ada satu pun yang tampak berlalu-lalang di sana, hanya aku—berdiri mematung di tengah lorong itu.
Aku tak mengerti, di mana aku sekarang? Kenapa tempat ini terasa tak asing? Aku menoleh ke kanan, lalu ke kiri, mencoba mencari petunjuk. Namun tak ada tanda apa pun di sana, selain suasana malam yang perlahan menjadi semakin mencengkam.
Aku melangkah pelan, satu tapak... dua tapak... sesekali memanggil seseorang—atau entah siapa saja—yang mungkin ada, atau sekadar lewat di lorong itu.
Aku memberanikan diri, maju dan terus maju di bawah redupnya lampu neon yang menggantung di langit-langit.
Tanpa kusadari, aku telah berdiri beberapa meter dari pintu kamar bertuliskan angka 8.
Ting... suara pintu lift terbuka. Aku menoleh cepat dan menghela napas lega. “Berarti aku tak sendiri di tempat ini,” gumamku.
Namun sesuatu terasa janggal. Pintu lift itu terbuka, tapi tak ada siapa pun yang keluar dari sana.
Aku menelan ludah, ngeri, tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku mencoba memberanikan diri, melangkah lagi—baru saja hendak berlari kecil, mataku menangkap sosok seseorang di sana.
Ia berdiri tepat di depan kamar nomor 8.
Aku tercengang. Siapa itu? Bukankah tak ada siapa pun tadi selain aku? Aku menyipitkan mata, mencoba menerawang di sela redupnya lampu lorong itu...
Keringat dingin mulai mengalir membasahi tubuhku.
Di sana—tepat di depan pintu kamar nomor 8—terlihat sosok tinggi dengan tubuh membungkuk, seluruhnya berwarna hitam.
Tanduk tajam menjulur di kepalanya, persis seperti tanduk kambing, dan kuku jari-jemarinya panjang serta runcing.
Itu... sepertinya bukan manusia, bisikku lirih di sela napas yang nyaris putus karena ketakutan.
Tanpa pikir panjang, aku memutar tubuhku dan berlari ke arah lift. Jari-jariku gemetar menekan tombol menuju lantai satu, berkali-kali, seolah kecepatan bisa menyelamatkanku.
Dalam hati aku berdoa: Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku. Tapi jika ini nyata, kirimkan siapa saja untuk menolongku keluar dari tempat ini.
Namun lift itu seperti mati—lampunya tak menyala, tombolnya tak merespons.
Di balik punggungku, terdengar suara langkah cepat menghentak lantai. Irama langkah itu berat, kasar... dan semakin lama, semakin dekat.
Mungkin... mungkin itu langkah makhluk tadi.
Suaranya makin jelas kini—disertai dengan helaan napas berat dan erangan rendah yang membuat jantungku serasa berhenti. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Aku menutup mata, tubuh gemetar, air mata mulai jatuh satu per satu.
Tepat saat hembusan napas itu terasa begitu dekat di telingaku—
Ting!
Pintu lift tertutup perlahan, dan lift mulai bergerak turun.
Aku menghela napas lega.
Akhirnya… aku bebas dari makhluk menyeramkan itu. Atau setidaknya, pikir ku.
Pintu lift terbuka. Akhirnya aku sampai dekat lobi, pikirku. Nafasku terengah-engah, mencoba menguatkan langkah untuk keluar dari lift itu. Namun aku membelalakkan mata untuk kesekian kalinya.
Bukankah ini lorong apartemen yang tadi? Lah? Aku yakin benar bahwa tadi lift itu benar-benar turun. Lantas, mengapa masih di tempat yang sama?
Ya, ini masih tempat yang sama — lorong dengan kamar nomor 8. Benar-benar masih sama. Yang membuat beda hanya suasananya. Ya, suasana kali ini lebih sedikit tenang, meski masih terasa mencengkam. Lampu-lampu pada langit-langit lorong ini masih menerangi dengan baik. Lantainya pun sangat bersih.
Aku mengernyitkan dahi, meski dalam hati masih bertanya, apakah sudah aman?
Pasti, pasti ada yang tak beres. Aku harus kabur dari tempat ini, ucapku.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba menemukan cara untuk turun selagi suasana lorong ini masih aman dari penampakan iblis itu. Namun dengan cara apa? Tak mungkin aku menggunakan lift yang sama. Bagaimana jika aku memaksa masuk ke lift itu dan lift itu justru menghantarku ke tempat yang jauh lebih berbahaya dari lorong ini? pikirku takut.
Aku hampir menyerah, namun takdir berkata lain. Akhirnya, beberapa sentimeter dari lift itu terlihat pintu darurat. Ya, jalan satunya adalah menelusuri tangga darurat itu agar bisa keluar dari tempat ini, ucapku.
Aku menuruni satu-satu anak tangga itu dengan langkah cepat — secepat kilat. Tak ada yang kupikirkan selain keluar dari tempat terkutuk ini.
Entah berapa anak tangga yang telah kulewati sampai akhirnya aku memutuskan untuk berhenti, duduk sejenak di antara anak tangga, menarik nafas. Aku benar-benar lelah, ngantuk, juga haus, seraya menyenderkan kepalaku pada pegangan tangga itu.
Tak... tuk... tak... tuk...
Aku terperanjat kaget. Jantungku berdegup kencang saat terdengar seperti suara high heels sedang menaiki anak tangga.
“Siapa kah kali ini? Apakah manusia? Atau mungkin iblis itu?” pikirku berkecamuk.
Aku menggenggam erat pegangan anak tangga itu, dengan keadaan kepala masih bersandar di sana, memejam erat mataku. Kali ini aku pasrah — aku sudah sangat lelah dan mengantuk.
Suara itu semakin kuat, semakin terdengar mendekat, benar-benar terasa dekat...
Nafas terengahku berhenti seketika.
Ya, suara itu menghilang. Namun mataku masih terpejam erat. Haruskah aku membuka mata?
Aku tersentak bangun, napas terengah. Keringat dingin menempel di pelipis.
“Syukurlah... cuma mimpi,” gumamku lirih, mencoba menenangkan detak jantung sendiri.
Dengan tangan gemetar, aku meraih gelas air di meja rias. Airnya dingin menyentuh tenggorokan, tapi tak cukup menenangkan kegelisahan yang masih menggantung.
Mimpi itu… terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur.
Apa yang salah dengan diriku?
Kenapa aku bisa memimpikan hal seperti itu?
Apakah ini pertanda aku sebaiknya membatalkan keputusan menyewa apartemen ini?
Nada dering All We Know dari The Chainsmokers tiba-tiba memecah lamunanku.
Handphone-ku bergetar di atas meja. Nama “Cici” tertera di layar—rekan kerja yang merekomendasikan apartemen ini padaku.
“Hallo, Ci. Ada apa?” tanyaku setengah malas.
“Nay! Denger ya—keluar dari apartemen itu sekarang juga! Gue otw jemput lo!”
Aku mengernyit. “Lho, kenapa sih? Lo bikin panik aja.”
“Nay, tolong percaya sama gue kali ini. Gue baru dapat kabar dari mantan cleaning service di sana. Katanya... pemilik apartemen itu pelihara sesuatu. Iblis, Nay. Iblis turun-temurun!”
Jantungku serasa berhenti berdetak.
“Iblis? Maksud lo gimana, Ci?”
“Katanya iblis itu disimpen di kamar nomor 8. Tiap tahun, dia minta tumbal—dan selalu orang yang tinggal dua pintu dari kamar itu.”
Aku menelan ludah.
“Itu... kamar aku, Ci.”
“Ya, Nay! Itu kamar lo! Dan yang paling parah—katanya, iblis itu ngedatangin tumbalnya lewat mimpi.”
Hening.
Aku tak tahu harus menjawab apa. Kata-katanya terus bergema di kepalaku.
Telepon tiba-tiba terputus.
Aku menatap layar, bingung, sebelum suara tok... tok... pelan terdengar dari arah pintu kamar.
Dua ketukan.
Perlahan, aku menoleh ke arah sumber suara itu.
Kamar nomor 8...
Hanya dua pintu dari tempatku berdiri sekarang.
Aku membeku.
Napas tercekat di tenggorokan.
Ya Tuhan... apakah aku tumbal berikutnya?
— Tamat —
> © 2025 Fei — Hak cipta dilindungi.
Diterbitkan pertama kali di Silent Room by Fei.
Mohon untuk tidak menyalin atau menggunakan kembali tanpa izin penulis.